HOLLYWOOD

Just another WordPress.com weblog

Slumdog Millionaire VS Daun di Atas Bantal

200px-slumdog_millionaire_posterdaun_di_atas_bantalJauh sebelum gegap gempita Slumdog Millionaire (SM), sebenarnya Indonesia telah memiliki Daun di Atas Bantal (DdAB) oleh Mas Garin. Dan saat saya dan istri menonton SM, kami sontak langsung ingat pada DdAB yang juga kami tonton bersama satu dekade yang lalu.

Mau membandingkan SM dengan DdAB, atau Oom Dyle VS Mas Garin? Itu bukan tema tulisan ini kok, tapi saya benar-benar terpancing untuk men-sandingkan kedua film ini.

Mumbay (dulu kita kenal sebagai Bombay kan?) dalam SM, bukankah sangat mengingatkan kita dengan Jakarta? Saya yakin cerita Jamal, Salim, dan Latika akan bisa kita temukan di berbagai kolong jembatan ibukota. Mas Garin menampilkan secuplik kisah serupa, meskipun di Yogyakarta, mungkin karena sebagai kontras atas Yogya sebagai basis kultur penting di Jawa? Itu hanya spekulasi saya, tapi tema yang dibawakan memiliki kesamaan yang khas.

Yang pasti saat menonton kedua film tersebut, perasaan jadi terasa down, sedih. Bahkan banyak penonton yang berkaca-kaca, misalnya saat Jamal bertemu dengan temannya yang masih menjadi pengemis buta dan menceritakan tentang Benjamin Franklin pada uang 100 Dollar Amerika.

Tetapi, kami berdua ingat sekali bahwa perasaan kami lebih sedih sesudah menonton DdAB, karena Mas Garin, dan Mbak Christine Hakim (yang juga producer filmnya) menampilkan suasananya dengan penuh ketelanjangan brutal kejamnya kehidupan. Doyle, mungkin dengan perhitungan bisnis dan selera penonton barat, membungkus kisahnya dengan Cinderella story dan romansa lost love found, dengan akhir yang Happy End, dengan kemenangan tokohnya atas kejamnya kehidupan. Ini suatu yang sangat membedakan perasaan kita saat menontonnya.

Satu persamaan kedua film ini adalah menggunakan pemeran cilik yang memang berasal dari kalangan anak jalanan. Kita tahu bagaimana pemeran Jamal dan Salim bahkan diajak ke Oscar, juga mereka mendapatkan semacam trust fund untuk masa depan mereka. Saya jadi tertarik bagaimana dengan pemeran cilik di film DdAB yah? Bukankah mereka sekarang sudah jadi pemuda-pemuda? Di manakah mereka?

Salute buat Oom Doyle dan Mas Garin yang membawa secuplik kisah dari bawah ini dengan gaya mereka masing-masing.

Salute for humanity.

Advertisements

May 31, 2009 - Posted by | INCREDIBLE, RATINGS, REVIEWS |

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: